
Avifauna Hutan Daerah Kiarapayung
.
Ekologis Avifauna Sumber Benih Kaliandra (Calliandra calothyrsus Meisn.) di Hutan Daerah Kiarapayung, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat
Avifauna adalah satwa yang dapat dijumpai di hampir setiap tempat. Seperti makhluk hidup pada umumnya, avifauna memiliki syarat-syarat khusus untuk hidup yaitu kondisi habitat yang cocok, baik, serta aman dari gangguan. Keberadaan avifauna diantaranya dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kecocokan tempat untuk membuat sarang. Kondisi ini yang membuat komunitas avifauna di suatu tempat menjadi indikator kondisi lingkungan yang baik (Prabowo et al., 2019).
Feeding Guild Avifauna
Keragaman spesies yang luas menunjukkan bahwa struktur habitat dari avifauna beragam dengan sumber daya yang melimpah. Keragaman dan kelimpahan spesies avifauna yang tinggi mencerminkan bagaimana kondisi habitatnya. Hal ini dikarenakan persebarang burung sangat erat kaitanya dengan ketersediaan pakan. Menurut Muhammad et al (2018) dan Ramadhani et al (2023) feeding guild atau kelompok pakan adalah pengelompokan avifauna berdasarkan jenis makanan utama yang dikonsumsinya serta peranannya dalam rantai makanan ekosistem.
Pengelompokan ini mencerminkan posisi trofik (tingkat dalam rantai makanan) suatu spesies dan merupakan indikator penting dalam memahami fungsi ekologi burung serta kesehatan suatu habitat. Berdasarkan kelompok pakannya, avifauna dibedakan menjadi 7 yakni.
a. Carnivore
Kelompok ini merupakan kelompok pemangsa yang menempati puncak rantai makanan. Burung dengan feeding guild carnivore menjadi indikator kestabilan ekosistem. Hal ini dikarenakan kehadiran mereka bergantung pada keberadaan mangsanya dan juga kelompok carnivore sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Contoh burung dengan feeding guild carnivore adalah famili Falconidae.
b. Frugivore
Burung pemakan buah yang berfungsi sebagai agen penyebar biji secara endozoochory. Kelompok frugivore, yaitu burung pemakan buah, memiliki peran vital sebagai agen penyebar biji (seed disperser) dalam proses regenerasi hutan. Mereka menelan buah beserta bijinya, lalu membuang biji melalui feses di lokasi yang berbeda, yang mendukung persebaran tumbuhan hutan. Contoh famili frugivore adalah Pycnonotidae (cucak).
c. Granivore
Kelompok granivore adalah burung yang makanannya terdiri atas biji-bijian. Mereka merupakan konsumen primer dan memainkan peran dalam transfer energi dari produsen (tumbuhan) ke tingkat tropik lebih tinggi. Burung granivore banyak ditemukan di habitat terbuka seperti lahan pertanian, padang rumput, atau tepi hutan. Famili yang termasuk di antaranya adalah Estrildidae (emprit). Meskipun sering dianggap hama di lahan pertanian, dalam ekosistem alami mereka membantu dalam aliran biomassa dan turut mempercepat dekomposisi benih di alam.
d. Insectivore
Kelompok insectivore adalah burung yang mengandalkan serangga sebagai sumber pakan utama. Mereka berperan penting sebagai pengendali alami populasi serangga, termasuk serangga hama pada tanaman.
Contoh burung dalam guild ini berasal dari famili Apodidae (kapinis/walet) dan Picidae (pelatuk). Insectivore biasanya sangat umum ditemukan di kawasan hutan yang memiliki keragaman vegetasi tinggi, karena pohon-pohon menyediakan mikrohabitat bagi serangga yang menjadi sumber pakan mereka.
e. Nectarivore
Kelompok nectarivore, yaitu burung pemakan nektar dari bunga, berperan sebagai polinator (penyerbuk). Mereka membantu penyerbukan silang pada tumbuhan berbunga yang menghasilkan nektar, seperti dari famili Nectariniidae (burung-madu). Keberadaan burung ini menunjukkan hubungan mutualisme antara burung dan tanaman, di mana burung memperoleh makanan dan tumbuhan terbantu dalam reproduksi.
f. Omnivore
Kelompok omnivore terdiri atas burung yang memiliki pola makan fleksibel, yakni dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti serangga, buah, biji, dan bagian tumbuhan lain. Burung dalam guild ini mampu beradaptasi terhadap perubahan sumber pakan dan kondisi lingkungan.
Contohnya Amaurornis phoenicurus dari famili Rallidae. Mereka umum ditemukan di area hutan sekunder, tepi lahan pertanian, atau semak belukar.
g. Piscivore
Kelompok piscivore adalah burung pemakan ikan, yang meskipun jumlahnya tidak dominan, memainkan peran penting sebagai predator akuatik. Mereka menunjukkan hubungan langsung antara ekosistem perairan dan daratan serta menjadi indikator kesehatan lingkungan perairan. Piscivore umum ditemukan di habitat seperti danau, sungai, rawa, atau laut, dan berasal dari famili Alcedinidae (cekakak/kingfisher).
Contoh spesies piscivore adalah Halcyon cyanoventris (cekakak jawa). Kehadiran mereka menunjukkan adanya populasi ikan yang memadai dan kualitas perairan yang baik.
Secara keseluruhan, keberadaan dan proporsi berbagai jenis feeding guild dalam suatu kawasan mencerminkan kompleksitas dan stabilitas ekosistem tersebut. Suatu habitat yang sehat dan lengkap biasanya memiliki representasi dari semua kelompok pakan ini, dari pemakan primer hingga predator puncak. Sehingga, pengamatan avifauna serta analisis feeding guild dapat menjadi indikator ekologis dalam menilai gangguan atau perubahan yang terjadi di alam. Hal ini dikarenakan, analisis feeding guild juga menunjukkan apakah habitat suatu kelompok burung memiliki kualitas yang baik atau tidak.
Kelebihan Metode Point counting dan Time curve
Metode titik hitung atau metode point counting merupakan metode yang dilakukan dengan pencatatan jenis burung baik secara langsung maupun tidak langsung beserta jumlahnya yang berada di dalam area pengamatan. Area pengamatan merupakan area berbentuk lingkaran dengan radius 25-50 meter. Metode point counting dipilih dengan pertimbangan biaya, waktu, dan kemampuan pengamat. Kelebihan dari metode ini adalah pengamat tetap berdiri di pusat pengamatan dan mencatat semua burung baik yang terlihat maupun hanya terdengar. Selain itu, metode ini dapat disesuaikan dengan aksesibilitas karena dapat disesuaikan dengan habitat burung yang diamati sehingga tidak merusak ekosistem yang memungkinkan terjadinya bias pada sampel. Hal ini membuat metode point counting menjadi representatif untuk pengamatan burung di area sumber benih Kaliandra. Metode time curve dan point counting yang digunakan untuk menentukan species-time curve menunjukkan waktu yang tepat mengamati burung di sumber benih Kaliandra. Interval waktu menentukan banyaknya kemunculan burung, yang ditentukan juga oleh kondisi lingkungan dan struktur vegetasi habitat burung (Saputra, 2024)
Tempat pengambilan data analisis vegetasi berada di sumber benih Kaliandra di Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Titik tengah plot pengambilan data sumber benih Kaliandra (Calliandra calothyrsus) ada pada -6.883038, 107.755188. Area penelitian dibatasi hanya di dalam kawasan sumber benih Kaliandra kelas tegakan benih teridentifikasi (Calliandra calothyrsus) seluas 1,5 Ha.
Tabel Komunitas Avifauna yang berada di sumber benih kaliandra Hutan Daerah Kiarapayung
| Famili | Scientific Name | Feeding Guild |
| Accipitridae | Nisaetus limnaeetus | Carnivore |
| Alcedinidae | Halcyon cyanoventris | Carnivore |
| Apodidae | Aerodramus fuciphagus | Insectivore |
| Apodidae | Apus nipalensis | Insectivore |
| Apodidae | Collocalia linchi | Insectivore |
| Apodidae | Cypsiurus balasiensis | Insectivore |
| Artamidae | Artamus leucorynchus | Insectivore |
| Cisticolidae | Orthotomus sutorius | Insectivore |
| Columbidae | Spilopelia chinensis | Granivore |
| Cuculidae | Cacomantis merulinus | Frugivore |
| Cuculidae | Cacomantis sepulcralis | Frugivore |
| Cuculidae | Centropus bengalensis | Carnivore |
| Cuculidae | Centropus sinensis | Carnivore |
| Dicruridae | Dicrurus leucophaeus | Insectivore |
| Estrildidae | Lonchura leucogastroides | Granivore |
| Estrildidae | Lonchura punctulata | Granivore |
| Falconidae | Falco peregrinus | Carnivore |
| Hirundinidae | Cecropis daurica | Insectivore |
| Pellorneidae | Malacocincla sepiaria | Insectivore |
| Pellorneidae | Pellorneum capistratum | Insectivore |
| Pellorneidae | Turdinus macrodactylus | Insectivore |
| Picidae | Dendrocopos analis | Insectivore |
| Picidae | Picoides moluccensis | Insectivore |
| Pycnonotidae | Pycnonotus analis | Frugivore |
| Pycnonotidae | Pycnonotus aurigaster | Frugivore |
| Strigidae | Strix leptogrammica | Carnivore |
| Vireonidae | Pteruthius aenobarbus | Insectivore |
Dari tabel diatas menunjukkan komunitas avifauna di sekitar sumber benih Kaliandra yang teramati. Komunitas burung terdiri dari 16 famili dan 27 spesies yang berbeda. Famili yang mendominasi adalah famili Apodidae, Cuculidae, dan Pellorneidae. Banyaknya spesies yang teramati menunjukkan kondisi keragaman spesies yang ada di sumber benih Kaliandra.
Hubungan antara avifauna dan ketersediaan benih Kaliandra dianalisis secara ekologis melalui peran fungsional burung sebagai pengendali hama dan indikator kualitas habitat. Keberadaan dan keragaman jenis burung yang tercatat pada kawasan sumber benih Kaliandra menunjukkan bahwa kondisi habitat masih mampu menyediakan pakan, tempat bertengger, dan lokasi bersarang. Habitat yang stabil dan sehat mendukung pertumbuhan vegetasi yang optimal, proses pembungaan dan pembentukan benih Kaliandra secara berkelanjutan. Tingginya keanekaragaman avifauna mencerminkan kondisi ekologis yang mendukung produksi benih. Sebagian besar jenis burung yang ditemukan berperan sebagai insektivora yang menekan populasi serangga herbivora pada sumber benih Kaliandra. Tekanan hama yang lebih rendah dapat mengurangi kerusakan bunga dan polong, meningkatkan peluang keberhasilan pembentukan dan pematangan benih Kaliandra. Secara tidak langsung, avifauna berkontribusi terhadap kuantitas dan kualitas benih.
Peningkatan kuantitas benih Kaliandra selaras dengan meningkatnya jumlah individu Kaliandra yang tumbuh pada tegakan sumber benih. Hal ini ditunjukkan oleh data sertifikat sumber benih Kaliandra yang disertifikasi oleh UPTD Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan pada tahun 2025, dimana pada luas 1,5 ha terdapat 455 pohon dengan potensi produksi benih sebesar 109,2 kg/tahun. Berdasarkan hasil inventarisasi lapangan tahun 2026, jumlah individu Kaliandra pada luas 1 ha meningkat menjadi 520 pohon. Dengan asumsi potensi produksi benih per pohon relatif konstan sebesar ±0,24 kg/pohon/tahun, maka potensi produksi benih Kaliandra pada tahun 2026 diperkirakan mencapai ±124,8 kg/tahun.
Peningkatan jumlah individu Kaliandra tersebut tidak terlepas dari kondisi ekosistem yang relatif mendukung, salah satunya ditunjukkan oleh keberadaan dan aktivitas avifauna di kawasan sumber benih. Avifauna berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui fungsi pengendalian populasi serangga serta sebagai indikator kualitas habitat. Kondisi habitat yang stabil dan seimbang mendukung pertumbuhan dan regenerasi vegetasi, sehingga secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan jumlah individu Kaliandra dan potensi ketersediaan benih di kawasan sumber benih.
Kesimpulannya
Dari penelitian ini, diperoleh beberapa kesimpulan utama terkait kondisi ekologis dan peran avifauna di sumber benih Kaliandra sebagai berikut:
- Kondisi ekologis kawasan sumber benih Kaliandra cukup mendukung pertumbuhan dan regenerasi Kaliandra.
- Struktur komunitas avifauna di kawasan sumber benih Kaliandra menunjukkan keragaman spesies dengan kelimpahan yang berbeda-beda yang mencerminkan pola interaksi ekologis yang kompleks.
- Peran ekologis avifauna penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem, terutama melalui penyebaran biji dan pemeliharaan keseimbangan vegetasi melalui fungsi pengendalian populasi serangga serta sebagai indikator kualitas habitat.
Penulis : K. Aisyah, R. Syifa Aulia dan M. Zaidan Hasan
Editor : Humas UPTD Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan
Sumber Data Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) kerjasama dengan UPTD Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
Dokumentasi Avifauna Sumber Benih Kaliandra di Hutan Daerah Kiarapayung







